Kepada Yth. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah
Bapak Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed.
Di Tempat
Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh
Perkenalkan nama saya Firzana Adiba Sahda, kelas 5 Sekolah Dasar di SD Patra Darma 3 Balikpapan sekitar kira-kira berjarak tiga jam dari IKN (Ibu Kota Negara). Setelah kurang lebih lima hari saya menulis surat refleksi ini. Sebelumnya saya minta maaf kalo masih ada salah kata, dengan senang hati saya menerima kritik dan saran yang membangun.
“Membaca adalah jendela dunia. Tetapi tidak hanya itu, membaca juga adalah sebuah kunci yang dapat membuka pintu-pintu rahasia ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.” – Ki Hajar Dewantara.
Sebait kata motivasi dari seorang tokoh Pendidikan di Indonesia, bawasanya membaca adalah sebuiah kegiatan yang harus dilaksanakan tiap manusia, terutama bagi kami yang masih berstatus sebagai pelajar. Seiring berjalannya waktu, negeri tercinta Indonesia ini mengalami berbagai perubahan paradigma pendidikan. Tujuan utama pendidikan, idealnya adalah agar peserta didik/siswa-siswi di sekolah mampu beradaptasi dengan lingkungan, meraih keinginan dan cita-cita yang mulia. Saya yakin, tiap anak yang lahir ke dunia ini selalu disertai oleh doa, harapan keinginan dari kedua orang tua masing-masing. Mungkin, hal ini juga yang mendasari para pemimpin dan praktisi pendidikan perlu untuk melakukan pergantian kurikulum saat berganti periode kepemimpinan agar berjalan beriringan dengan kemajuan jaman, perubahan paradigma dan pola pikir masayarakat.
Kurikulum adalah jiwa atau ruh pendidikan yang menggerakkan seluruh elemen pendidikan pergantian kurikulum tiap periode selalu membawa hal baru, dalam rentang antara tahun 1947 sampai dengan tahun 2022 sudah terdapat 11 kali pergantian kurikulum, banyak sekali. Pastinya semuanya bertambah mulai dari program-programnya, sistem pengajaran di kelas, buku, projek, instrumen penilaian sampai pada perangkat mengajar bapak/ibu guru. Saya sebagai siswa hanya siap dan sigap menjalani tanpa punya daya tawar. Namun apakah kurikulum selalu sesuai dengan keinginan? Jawab saya belum tentu. Hanya adaptasi dengan cepat adalah sebuah keharusan agar kami bisa menjalani pelajaran di sekolah.
Saya yakin tiap kurikulum ada kekurangan dan kelebihanya, ada misi visi yang berbeda, menjelang akhir tahun 2019 dunia termasuk Indonesia dilanda pandemi bernama Virus Corona atau Covid-19, terjadi perubahan besar cara belajar, sekolah pada tutup, siswa-siswi seluruhnya belajar dari rumah. Saat itu, belajar jarak jauh adalah hal baru yang tidak terbayangkan sebelumnya oleh saya. Cara belajarnya berganti dengan sistem Online/Daring memakai platform media seperti Zoom, Google Meets, MS. Teams dan sebagainya. Bapak dan ibu guru menyampaikan materi pelajaran dan tugas secara online. Ini berlangsung selama kurang lebih dua tahun. Saat memasuki era New Normal ketika itu, menjaga protokol kesehatan, jaga jarak, wajib pakai masker dan setelah beraktifitas pakai hand sanitizer. Kemana-mana wajib cek kesehatan. Dalam situasi yang serba terbatas itu, cara belajar Online/Daring menjadi sebuah kebiasaan. Saat pandemi kurikulum yang kita pakai adalah kurikulum darurat karena kesehatan adalah hal utama. Sedangkan ilmu pengetahuan tetap wajib kami terima. Jadi, hampir setiap hari saya mengumpulkan tugas, bikin video, dan setoran hafalan.
Tahun 2020, pemerintah mulai menyiapkan kurikulum baru yakni kurikulum Merdeka. Hakikatnya Merdeka adalah kebebasan menentukan mode, metode, materi cara belajar siswa-siswi. Namun ada sindiran halus di Masayarakat “Ganti Menteri, Ganti Kurikulum” apa benar begitu? mau jawab apa ya. Kurikulum merdeka pada hakikatnya merupakan penyempurnaan dari kurikulum 2013. Perbedaan dengan kurikulum sebelumnya, di Kurikulum Merdeka ada P5 singkatan dari Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila yang berupa proyek dan harus dilaksanakan tiap semester. Kelebihannya Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) ini mengupayakan mendorong tercapainya profil pelajar Pancasila menggunakan paradigma baru melalui pembelajaran berbasis proyek. Dalam P5, pendidik diharapkan menemani proses pembelajaran peserta didik sebagai salah satu sarana pencapaian profil pelajar Pancasila. Sehingga diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk “mendalami pengetahuan” sebagai proses penguatan karakter, sekaligus kesempatan untuk belajar dari lingkungan sekitarnya. Dimensi profil pelajar Pancasila menunjukkan bahwa profil pelajar Pancasila bukan hanya fokus pada kemampuan kognitif, tetapi juga sikap sesuai jati diri sebagai bangsa Indonesia sekaligus warga dunia.
Saya sebagai siswa diwajibkan untuk menjalankan kegiatan P5, dan tidak bisa menolak. Capek, lelah letih selalu membayangi tiap kegiatan P5 karna kami harus melakukan rencana, persiapan dan latihan dengan teman atau kelompok yang sudah ditentukan oleh bapak/ibu guru. Namun dengan jiwa ksatria kami siswa tetap bersemangat menjalaninya dengan sunguh-sunguh dan penuh tanggung jawab. Sebenarnya pelajaran P5 pada intinya baik, yakni untuk menumbuhkan rasa kepribadian yang berlandaskan Pancasila serta mengamalkan di kehidupan bermasyarakat. Namun ketika melihat, merasakan dan menjalani, ada rasa jemu, karena di sekolahku adalah Full Day School (bejalar penuh di sekolah) dari hari Senin sampai Jumat, masuk sekolah pukul 07.00 pagi pulang jam 15.45 WITA. Sebelum pulang ke rumah saya melanjutkan les/tambahan belajar serta ekstrakulikuler saya ikut Public Speaking. Sampai rumah sekitar pukul 18.00 malam, dan masih harus meyelesaikan PR/Tugas dari sekolah, belum lagi kalo ada tugas kelompok hari sabtu/minggu yang harusnya untuk istirahat berkumpul dengan keluarga terpaksa digunakan buat menyelesaikan tugas kerlkel (kerja kelompok). Selain itu dalam P5, kami juga mengeluarkan tambahan biaya untuk membeli alat-alat proyek.
Sekolah yang saya pilih dan tambahan les atau ekstrakurikuler merupakan pilihan terbaik orang tua untuk saya. Dan saya juga setuju untuk menjalaninya. Kalau boleh usul Pelajaran P5 itu bisa dipadatkan maksimal satu semester satu kali saja dengan durasi waktu satu minggu khusus. Pasti lebih mengasyikkan fokus persiapannya. Harapan saya semoga P5 dievaluasi kembali agar lebih efektif.
Dari sudut pandang positif P5 adalah terobosan besar, inovatif, karena mewadahi aktifitas siswa, kami dituntut untuk kreatif, aktif, dan harus sanggup menyelesaikan tantangan/tugas yang diberikan jadi siswa dijauhkan dari bermain Handphone sementara, jadi ajang yang bergengsi, kompetisi antar kelas juga jadi tempat penyaluran bakat, seperti jadi MC (master of ceremony), public speaking dan jual beli produk hasil projek P5 yang kita buat sendiri.
Apapun itu tentang kekurangan dan kelebihan Kurikulum Merdeka, selama ini dengan sikap sempurna dan jiwa kesatria, saya melakukan dan laksanakan dengan penuh tanggungjawab, keikhlasan dan senang hati. Semoga dengan ikut menjalani Kurikulum Merdeka adalah salah satu jalan ikhtiar untuk meraih cita-cita. Sehingga jika nanti suatu saat saya menimba ilmu di Harvard University atau Oxford University, pengalaman dari P5 yang merupakan bagian dari Kurikulum Merdeka, dapat bermanfaat setelah diperbaiki sehingga semakin mengenai nilainya bagi kami.
Demikian surat dari saya, jika ada kekurangan dan kekhilafan mohon dimaafkan. Atas perhatian Bapak kami ucapkan terima kasih.
Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh
Hormat Saya,
FIRZANA ADIBA SAHDA
