Oleh: Bayu Dwi Hannas, S.Pd.
Sebelum bendera Merah Putih berkibar di lapangan SD Patra Dharma 3 yang hijau, berkibarlah bendera Merah Putih Biru beberapa meter jaraknya. Tidak ada tetesan air dari AC, hanya tetesan embun dari pohon-pohon besar yang kelak akan tergantikan oleh gedung modern.

Tahun 1942, anak-anak Belanda bermain dengan riang di Europeesche Lagere School yang berdiri kokoh. Mereka belajar dengan aman di Balikpapan sementara sekolah-sekolah di negara asal mereka hancur oleh bom dan Panzer Jerman. Mereka tidak diteror oleh huru-hara Perang Dunia Kedua yang melanda Eropa. Orang tua mereka bekerja dengan leluasa di perusahaan minyak di bawah naungan Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) tanpa takut dikunjungi Gestapo atau peluru nyasar Wehrmacht. Sementara orang-orang Belanda di tempat asal mereka ada yang harus bekerja paksa di bawah tekanan Schutzstaffel.
Namun ketenangan mereka hanya sementara ketika Jepang dalam waktu singkat menginjakkan kaki di Borneo. Sirene berbunyi dimana-mana menyusul pesawat-pesawat tempur yang menjatuhkan bom dan kapal-kapal Yamato yang menembakkan amunisi. Kilang-kilang terbakar dan meledak. Asap membumbung dimana-mana. Kengerian itu membuat mereka berpikir bahwa dijajah Jerman masih lebih baik. Entah bagaimana kabar anak-anak Belanda itu.
Sekolah kosong menyisakan gema canda tawa anak-anak yang seiring menghilang di antara bunyi desing peluru pasukan Sekutu dan Aksis. Dari balik kabut dan asap, ia sedang menunggu generasi lain yang akan mengisinya. Bangunan pendidikan yang menjadi saksi bisu bagaimana ras manusia bisa sangat beringas dengan sesamanya.
Ketika Proklamasi berkumandang dari jarak seribu kilometer jauhnya, gelombang demi gelombang para penjajah asing mulai hengkang. Perusahaan minyak yang dikuasai Belanda mulai diambil alih oleh Pemerintah Indonesia saat itu, Permina (Perusahaan Minyak Nasional).
Infrastruktur yang rusak akibat perang diperbaiki dan dibangun kembali dengan menggandeng Bechtel, perusahaan konstruksi dari Virginia, AS. Sekolah yang sempat kosong kembali terisi oleh anak-anak Negeri Paman Sam selama beberapa tahun. Sekolah itupun dikenal dengan nama Sekolah Bechtel.

Setelah semua proyek pembangunan selesai, Bechtel pun pergi dari Balikpapan. Pada 30 September 1975, sekolah tersebut menjadi milik Permina (yang pada tahun 1968 berubah nama menjadi Pertamina), dan sekolah itu resmi bernama SD Pertamina 3 di bawah naungan YKPP (Yayasan Kesejahteraan Pegawai Pertamina).

Tahun 2001 ketika muncul UU No.22 tentang Minyak dan Gas Bumi serta UU No.19 pada tahun 2003 tentang BUMN menuntut Pertamina bertransformasi menjadi perseroan murni yang fokus di bidang komersial. Dampaknya, pengelolaan sekolah dilepas secara bertahap.
Tahun 2004, Yayasan Patra Dharma Mandiri berdiri untuk menaungi sekolah-sekolah Pertamina, termasuk yang pada saat ini bernama SD Patra Dharma 3 Balikpapan yang telah melalui berbagai macam sejarah besar di salah satu sudut Kota Balikpapan.
