Pertengkaran Tentang Sampah

Karya: Jihan Sahira Ramadhani

 

Pada suatu hari ada seorang laki-laki yang bernama Fadil. Lalu ada seorang perempuan bernama Kirana. Mereka selalu bertengkar.

Mereka selalu bertengkar karena Fadil selalu membuang sampah sembarangan. Sedangkan Kirana selalu membuang sampah pada tempatnya.

Bel istirahat berbunyi, “Kriiiiiing……..

Kirana: “Yey istirahat!”

Fadil: “Rasyad, ayo main bola.”

Rasyad: “Sebentar. Aku makan dulu.”

Fadil: “Oh iya. Yuk kita ke kantin.”

Rasyad: “Oke, Dil!”

Mereka pun ke kantin. Kirana dan teman-temannya juga ke kantin. Fadil membeli nasi goreng dan Kirana membeli mie goreng. Mie goreng Kirana ditaruh di tupperware.

Fadil: “Alhamdulillah, kenyang.”

Rasyad: “Fadil, aku beli dulu ya…”

Fadil: “Oke, Syad.

Kirana: “Teman-teman, ayo main.”

Teman-teman: “Kita belum makan. Kita makan dulu ya?”

Kirana: “Oke”

Saat itu Kirana melihat Fadil selesai makan tidak dibuang.

Kirana: “Fadil! Buang tempat makananmu!”

Fadil: “Biarin. Kan nanti Omnya aja yang buang.”

Kirana: “Gak boleh gitu, Dil. Coba lihat alam kita.”

Fadil: “Apa?”

Kirana: “Coba lihat ada sampah di mana-mana, di jalan, di rumah, di pinggir sungai, dan lain-lain.”

Fadil: “Oh iya. Sampah di mana-mana bisa mencemari alam kita ya?”

Kirana: Iya, Dil. Maka dari itu jangan buang sampah sembarangan dan kalau bisa bawa tupperware sendiri ya!”

Fadil: “Iya. Aku bakal buang sampah pada tempatnya kok. Aku berjanji. Terimakasih telah mengingatkanku, Kirana.”

Akhirnya Fadil dan Kirana berteman.

Oke, teman-teman kita tahu ya kalau sampah ada dampak dan manfaatnya. Jadi kita harus buang sampah pada tempatnya.

TAMAT.

    Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

    Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

    Mendidik adalah memimpin,
    berkarya adalah bernyawa.

    Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

    Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

    Mendidik adalah memimpin,
    berkarya adalah bernyawa.

    Artikel Terkait