WhatsApp Image 2025-03-28 at 10.29.31
Kata Siswa 6D tentang Kurikulum Merdeka

Selama kurang lebih tiga tahun SD Patra Dharma 3 mengimplementasikan Kurikulum Merdeka, bagaimana dampaknya bagi para siswa? Berikut ini adalah tanggapan beberapa siswa dan siswi kelas 6D.

 

“Membawa banyak hal positif”

Kurikulum Merdeka membawa banyak hal positif, terutama dalam memberikan kebebasan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan minat dan bakat mereka. Dengan pendekatan yang lebih fleksibel, siswa dapat mengeksplorasi berbagai metode pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajar masing-masing, sehingga meningkatkan motivasi dan keterlibatan mereka dalam proses belajar.

Namun terdapat juga beberapa kekurangan dalam penerapan Kurikulum Merdeka. Salah satunya adalah ketidakjelasan dalam pemahaman materi yang dapat menyebabkan kesulitan siswa dalam mencapai kompetensi yang diharapkan. Selain itu, tidak semua guru siap dan berlatih untuk menerapkan kurikulum ini secara efektif, yang dapat menghasilkan kesempurnaan dalam kualitas pendidikan di berbagai daerah. Kesimpulannya, meskipun Kurikulum Merdeka menawarkan banyak potensi untuk meningkatkan kualitas pendidikan, tantangan dalam pelaksanaannya perlu diatasi. Diperlukan dukungan yang lebih baik bagi guru dan infrastruktur pendidikan agar semua siswa dapat merasakan manfaat dari kurikulum ini secara merata.” – Al Fattah Mangkuluhur

 

“Tidak seratus persen merdeka”

Kurikulum Merdeka adalah kurikulum pendidikan yang saya dapatkan sejak saya di kelas 4 SD hingga saat ini saya sudah duduk di kelas 6 SD. Dari namanya kurikulum ini bagus, MERDEKA yang bisa di artikan kebebasan. Gambaran yang saya dapatkan adalah kita akan diberikan kebebasan oleh guru di sekolah untuk menekuni bidang atau mata pelajaran yang kita suka dengan bimbingan khusus dari guru mata pelajaran tersebut, tentunya dengan tetap mempelajari mata pelajaran yang lain yang juga perlu diketahui.

Dalam perjalanannya yang saya rasakan ternyata tidak seratus persen merdeka seperti yang disebutkan. Saya jadi bingung dengan model pembelajarannya. Buku panduan juga terkadang terlambat kami terima dari sekolah hingga sering di beberapa semester itu bukunya berubah di pertengahan semester karena bukunya baru datang. Dengan berubahnya buku panduan itu artinya materinya juga berubah.

Selain buku materi, saya juga melihat ada  beberapa guru yang terlihat masih bingung dengan materi pengajarannya. Terbukti dari seringnya soal di ulangan akhir yang materinya malah belum kami terima di dalam kelas.

Di Kurikulum Merdeka ini saya menyukai kegiatan atau tugas kelompoknya yang dikerjakan bersama teman-teman di kelas. Hanya saja kami juga butuh guru yang bisa memberikan contoh kepada kami karena tidak sedikit juga guru yang memberikan tugas kelompok tanpa memberikan contoh atau arahan di dalam kelas. Kami lebih banyak di arahkan untuk melihat Google atau Youtube sebagai panduan.

Kurikulumnya bagus jika sarana pendukungnya lebih disiapkan dengan baik agar siswa tidak menjadi bingung. Sebenarnya apapun kurikulumnya kami sebagai siswa akan mengikuti apa saja yang menurut guru-guru baik untuk kami. Karena apapun kurikulumnya pasti sudah dipikirkan dengan sangat cermat untuk kebaikan kami oleh pemimpin bangsa.

Saya sebagai siswa akan selalu siap mendapatkan ilmu yang baik dari guru-guru kami sebagai bekal bagi kami di masa depan. Terimakasih bapak ibu Guru, sehat terus ya agar bisa mendidik saya dan teman-teman di SD Patra Dharma 3 Balikpapan.” – Putri Ageng Darmawulan

 

“Belajar dengan teknologi”

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Hari ini saya ingin mengutarakan pendapat saya terkait Kurikulum Merdeka. Kami memulai Kurikulum Merdeka saat kelas 4 dan saat itu saya jauh lebih mengerti tentang pelajaran yang saya pelajari dibandingkan sebelumnya. Dan Kurikulum Merdeka dapat memudahkan guru untuk mengajar sesuai kebutuhan, dan kita dapat lebih mengerti dari apa yang guru kita sampaikan. Saya juga memiliki pengalaman  kesulitan belajar saat kelas tiga atau saat belum ada Kurikulum Merdeka. Dan untung saja pelajaran yang saya kurang mengerti itu diulang lagi dikelas 4. Nah, saya juga seorang murid pindahan kelas 5. Hal yang saya pelajari saat saya masuk itu lebih cepat dibandingkan di sekolah saya yang dulu.

Tapi untung saja saya tetap bisa mengerti karena guru tersebut mengulang sedikit saja untuk memastikan murid-muridnya mengerti dan paham. Dan Kurikulum Merdeka pun dapat mendorong kreatifitas guru dalam mengajar, memenuhi kebutuhan belajar siswa untuk menyesuaikan perkembangan zaman. Dalam Kurikulum Merdeka kita belajar dengan teknologi yang artinya kita ujian atau ulangan (kadang-kadang) itu menggunakan HP (handphone) dan menurut saya, saya lebih suka menggunakan HP dibanding kertas karena saya pun tidak tahu tapi saya lebih mengingat jawaban saya ketika saya ujian di HP. Lagipula saat ujian di HP itu menggunakan soal pilihan ganda. Teman-teman saya pun setuju bahwa menggunakan handphone saat ujian itu lebih mudah. Intinya saya setuju dengan adanya Kurikulum Merdeka. Semoga dengan adanya perkembangan zaman, pendidikan di  Indonesia bisa tetap selalu meningkat. Sekian dari saya, Anaya Zivara Hutasuhut. Maaf jika ada salah kata. Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.” – Anaya Zivara Hutasuhut 

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait