Oleh: Bayu Dwi Hannas
Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Dan salah satu keberkahan yang dirasakan adalah ketika seorang ulama asal Palestina berkunjung ke SD Patra Dharma 3 Balikpapan. Bersama Baitul Maal Hidayatullah (BMH), Syaikh Naim Abdallah Suliman Abu Shandi, disambut dengan hangat dan antusias oleh anak-anak SD Patra Dharma 3.
Di hari pertama masuk sekolah di bulan puasa, tepatnya pada Senin, 5 Ramadhan 1447 H, atau bertepatan dengan 23 Februari 2026 H, para siswa yang beragama Islam berkumpul di Aula di pagi hari, tepat pukul 07.30. Sebagian ada yang terlihat mengantuk. Mungkin karena hari itu mereka masih mengawali latihan puasa mereka yang hanya setahun sekali. Saya pun yang sudah dewasa juga merasakan kantuk yang khas dirasakan ketika puasa. Namun untuk melawan kantuk itu, saya berdiri di depan gerbang sekolah untuk menyambut siswa yang datang kesiangan. Di bulan puasa, biasanya sebagian orang tidur setelah salat subuh dan sahur. Jika tidak pasang alarm, maka bisa kebablasan sampai siang. Sejatinya Bulan Ramadhan bukan bulan untuk bermalas-malasan. Meskipun berpuasa, produktivitas dunia dan akhirat harus tetap berjalan beriringan.
Seraya menunggu kedatangan Syaikh, saya berbincang dengan beberapa petugas BMH yang telah tiba terlebih dahulu. Sementara itu, saya mendengar suara muroja’ah Al-Quran yang dilantunkan oleh para siswa di Aula. Perbincangan saya adalah tentunya seputar konflik yang terjadi di Timur Tengah, tentang Palestina, Hamas, Iran, dan apa yang ada di sana.
Dari pembicaraan tersebut, saya mengambil kesimpulan bahwa apa yang terjadi di Palestina, ada campur tangan politik dari beberapa pihak yang berperang. Dan selalu yang menjadi tumbal politik adalah warga sipil yang tidak tahu apa-apa, dari segala macam latar belakang dan agama. Dan dimana pun, agama selalu laris untuk dijadikan tameng suatu kejahatan.
”Tanah Kan’an adalah tanah yang dijanjikan Tuhan untuk kami karena kami adalah keturunan Ishak!” begitulah ujar mereka.
Padahal, saya sangat yakin, Allah, Alaha, Elohim, El, atau apapun kita menyebut-Nya dengan Nama-Nya Yang Mulia, selalu punya S&K yang berlaku dari setiap apa yang Dia janjikan kepada kita. Bukankah semua agama mengajarkan bahwa jika ingin hidup yang tenang dan bahagia maka lakukanlah kebaikan? Itu adalah syarat dan ketentuan yang umum. Lalu bagaimana mungkin Tuhan mengistimewakan suatu kaum bukan karena mereka berbuat baik, tetapi karena mereka mengaku sebagai keturunan seorang nabi? Saya yang beragama Islam jelas akan menjauhi orang yang mengaku sebagai keturunan Nabi Muhammad tetapi yang dia lakukan sehari-hari jauh dari ajaran Nabi Muhammad.
Ditambah lagi, belum masuk di logika saya: sekelompok warga imigran korban Perang Dunia Kedua dari Jerman, Polandia, Ukraina, Rusia, dan negara Eropa lainnya, hanya karena mereka memeluk agama tertentu (dan mengaku sebagai keturunan Ishak?) lalu mau mengakui suatu negara di Timur Tengah adalah negara mereka?
Orang Indonesia boleh saja beragama Islam, tapi itu tidak menjadikan mereka orang Arab dan mendirikan negara di Arab.
Tidak lama kemudian, sebuah mobil masuk ke gerbang sekolah. Kaca jendela depannya terbuka secara perlahan dan terlihatlah wajah Semitik yang tersenyum ke arah kami. Syaikh akhirnya datang bersama dengan penerjemah beliau. Beberapa guru dan karyawan segera menghampiri beliau ketika turun dari mobil untuk berfoto bersama.
Setelah mengucapkan salam, saya mengantarkan beliau ke Aula untuk bertemu dengan anak-anak. Dari jauh, para siswa berseru antusias melihat ada ulama, orang Arab, salah satu dari bangsa keturunan Ibrahim ’alayhis salam, yang berkunjung ke sekolah mereka. Tidak ada lagi wajah kantuk dan bosan, semua berdiri berebut untuk bersalaman.

Setelah sampai di panggung Aula, Syaikh Naim Abdallah Suliman Abu Shandi memimpin salat Duha dan memberikan ceramah singkat serta motivasi untuk memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan dan mengingatkan kita akan sulitnya kehidupan sebagian umat manusia di belahan bumi yang lain khususnya Palestina.
Usai rangkaian acara di Aula berakhir, Syaikh turun dari panggung. Para siswa langsung berdiri dan berlari menuju Syaikh seperti besi-besi kecil yang ditarik magnet. Beberapa siswa ada yang terjatuh dan hampir saja terinjak jika tidak segera ditertibkan. Namun, saya menganggap ini adalah hal yang positif, ketika di tengah zaman media sosial yang tak terkendali, kita banyak mengidolakan tokoh-tokoh selebgram yang sering tampil joget di TikTok tetapi kita masih tidak melupakan bahwa di sana ada orang-orang saleh yang sangat ingin memperbaiki generasi dan peradaban manusia.
Di Ruang Kepala Sekolah, bersama dengan Bu Herlina Husma Bela, selaku Kepala Sekolah, dan Bu Radiah, selaku Waka Bid. Kurikulum, Syaikh Naim memberikan kesempatan Talaqi bersanad kepada dua orang siswa yang terpilih karena memiliki prestasi di bidang Tahfidz. Mereka adalah:
- Yuka Azzahra Zuyyin, dan
- Andi Muhammad Mahir.

