Oleh: Jihan Sahira Ramadhani
Pada suatu hari di taman bunga, saya dan ketiga teman saya yang bernama Sira, Kia, dan Mela sedang bermain menangkap belalang. Saat itu masing-masing kami membawa mainan. Sira membawa boneka favoritnya yaitu boneka berbentuk unta. Boneka itu menjadi favorit karena berasal dari Madinah pemberian neneknya.
“Coba lihat. Bagus, kan?” ujar Sira.
Kia membawa boneka Barbie dari Jepang. Bajunya anggun, sepatu kaca dan rambut cokelat keemasan.
“Lihat dulu punyaku. Mahal nih!” ujar Kia dengan bangga.
Sementara Mela membawa Squishy, berbeda dari yang lain. Squishy Mela berjumlah sepuluh buah dengan jenis yang berbeda. Ada Hacimi, Taba, dan lain-lain.
Mela berkata, “Lebih bagus aku, tahu! Aku bawa Squishy dari berbagai macam negara, lho! Jepang, Belanda, dan lain-lain.”
Sementara saya membawa kamera untuk berfoto sebagai kenang-kenangan karena sebentar lagi kita akan berpisah dengan Sira. Dalam waktu dekat, Sira akan pindah ke Singapura karena ia mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di sana.
Di taman, kita menghabiskan waktu berfoto, mencari belalang, dan bermain. Saat kita semua hendak mengambil mainan yang kami taruh di atas bangku, tiba-tiba Kia menangis.
“Bonekaku hilang!” serunya .

Kami semua membantu mencarinya. Kami sempat panik dan takut jika Kia menuduh salah satu dari kami mengambil bonekanya.
“Aku sama sekali tidak menyentuh bonekamu,” ujar Mela.
Kami mencari ke semua sudut taman tetapi tak kunjung ketemu.
Tiba-tiba, “DUAR!”
Bukan suara balon meletus, melainkan Kia berteriak mengejurkan kami semua seraya mengangkat boneka Barbie-nya ke atas.
“Aku sendiri yang menyembunyikan bonekaku,” ujar Kia sambil tertawa. “Aku ingin mengerjai Sira sebelum dia ke Singapura.”
Kami pun tertawa dan lanjut bermain hingga dijemput oleh orangtua kami masing-masing.
